MAROS — Tempat belajar dan bermain yang paling ideal bagi anak-anak bukanlah pusat perbelanjaan (mal) untuk sekadar berbelanja kuliner, dan waktu mereka pun seharusnya tidak dihabiskan hanya untuk bermain gawai (HP).
Pesan penting tersebut mengemuka dalam acara Launching Gerakan Membaca dan Menulis di Perpustakaan Kabupaten Maros (Gema Pustaka) yang diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari Kunjungan Perpustakaan, Senin (14/9/2026).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Maros bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Maros ini dihadiri langsung oleh Bupati Maros, Chaidir Syam, didampingi Bunda Literasi Maros Apt. Hj. Ulfiah Nur Yusuf Chaidir, S.Si.
Turut hadir pula Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Maros Syamsuddin, Ketua GPMB Maros Bachtiar Adnan Kusuma, Sekretaris GPMB sekaligus Ketua Pokja PAUD Maros Fitriani, para tokoh literasi, kepala sekolah, pustakawan, serta anak-anak TK binaan Pokja PAUD Maros.
Dalam sambutannya, Bupati Chaidir Syam — yang juga penerima Penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka dari Perpusnas RI tahun 2022 — menekankan bahwa perpustakaan masa kini telah bertransformasi fungsi.
"Perpustakaan tak sekadar ruang membaca dan menulis, melainkan menjadi pusat kegiatan masyarakat. Di perpustakaan, ibu-ibu bisa menyelenggarakan kegiatan arisan hingga mengelola kecakapan hidup. Inilah yang disebut Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial," ujar Chaidir Syam.
Melalui peluncuran Gema Pustaka, Bupati berharap kehadiran Perpustakaan Kabupaten Maros semakin diperkuat melalui tiga pilar utama: Satuan Keluarga, Satuan Pendidikan, dan Satuan Masyarakat.
Beliau juga mengajak para guru PAUD dan orang tua untuk menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar, informasi, bermain, dan kreativitas anak.
Sebagai rangkaian acara, Bupati Maros bersama Bunda Literasi dan Kadis Perpustakaan turut menyerahkan penghargaan kepada pengunjung aktif perpustakaan serta membagikan sertifikat akreditasi perpustakaan.
Sementara itu, Ketua GPMB Kab. Maros, Bachtiar Adnan Kusuma, mengurai makna filosofis di balik Hari Kunjungan Perpustakaan. Menurut tokoh literasi nasional tersebut, momentum ini bertujuan membentuk growth mindset (pola pikir bertumbuh) di tengah masyarakat.
Bukan Ruang Kaku: Perpustakaan tidak boleh dipandang sekadar sebagai ruang statis, formalistik, atau sekadar gudang buku.
Pusat Peradaban: Perpustakaan adalah sumber inspirasi, gaya hidup, dan ruang terbuka berpikir bagi siapa saja tanpa memandang status sosial.
Belajar Sepanjang Hayat: Budaya membaca dan mencari tahu harus menjadi tradisi yang melekat, bukan sekadar gugur kewajiban tugas akademis.
Sebagai catatan sejarah, tanggal 14 September dicanangkan sebagai Hari Kunjungan Perpustakaan atas prakarsa Kepala Perpustakaan Nasional pertama, Mastini Hardjoprakoso, melalui usulan kepada Presiden Soeharto pada 11 Agustus 1995 silam.
Melalui Gema Pustaka di Maros tahun ini, tradisi membaca secara bermakna terus digaungkan demi mewujudkan masyarakat yang cerdas dan berdaya saing.
