| Tradisi Mappalanca atau Adu Betis, sebuah permainan rakyat yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari pesta panen. |
Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Maros tetap mempertahankan berbagai ritual adat yang sarat makna. Salah satunya adalah Katto Bokko, tradisi panen raya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat Marusu. Prosesi ini bukan sekadar perayaan hasil pertanian, melainkan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus simbol kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur. Tradisi tersebut masih rutin dilaksanakan setiap musim panen dan melibatkan tokoh adat, pemerintah, serta masyarakat setempat.
Selain Katto Bokko, masyarakat Maros juga melestarikan Mappadendang, tradisi menumbuk padi menggunakan alu dan lesung secara berirama. Dentingan alu yang berpadu dengan irama musik tradisional menghadirkan suasana meriah sekaligus menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen. Tradisi ini kini juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda agar tetap mengenal akar budaya daerahnya.
Di Kecamatan Moncongloe, masyarakat masih mempertahankan tradisi Mappalanca atau Adu Betis, sebuah permainan rakyat yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari pesta panen. Meski menguji ketahanan fisik para peserta, tradisi ini lebih menonjolkan semangat persaudaraan, sportivitas, dan pelestarian budaya dibandingkan unsur kompetisi semata.
Tidak hanya tradisi, Maros juga kaya akan seni budaya Bugis-Makassar yang tercermin melalui tarian tradisional, musik daerah, pakaian adat, hingga nilai luhur Siri' na Pacce yang menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat. Nilai tersebut mengajarkan pentingnya menjaga harga diri, solidaritas, serta kepedulian terhadap sesama. Badik khas Maros bahkan menjadi salah satu simbol yang merepresentasikan identitas budaya daerah.
Pemerintah Kabupaten Maros bersama berbagai komunitas budaya terus berupaya menjaga keberlangsungan warisan tersebut melalui festival budaya, pagelaran seni, dokumentasi tradisi, hingga pembinaan generasi muda. Berbagai kegiatan budaya juga menjadi bagian dari strategi pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisi.
Di era modern, pelestarian adat dan budaya menjadi tantangan tersendiri. Namun, semangat masyarakat Maros untuk mempertahankan identitas budaya menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan hidup yang terus berkembang mengikuti zaman. Dengan kekayaan adat istiadat yang dimiliki, Kabupaten Maros memiliki potensi besar menjadi salah satu pusat wisata budaya unggulan di Sulawesi Selatan sekaligus menjaga jati diri daerah di tengah arus globalisasi.
