Ketua Harian PMI Kabupaten Maros, Suryadi Ningrat, mengatakan distribusi air bersih terus ditingkatkan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat. Hingga kini, sebanyak 17 tangki air telah disalurkan ke wilayah-wilayah yang mengalami krisis air bersih.
"Saat ini sudah ada sekitar 17 tangki yang telah disalurkan," ujar Suryadi saat dikonfirmasi, Minggu (2/8/2026).
Distribusi diprioritaskan ke daerah yang mengalami dampak paling serius, yakni Kecamatan Bontoa dan Kecamatan Maros Baru. Di Kecamatan Bontoa, bantuan menjangkau Kelurahan Bontoa, Desa Ampekale, dan Desa Tunikamaseang. Sementara di Kecamatan Maros Baru, penyaluran mulai dilakukan ke Desa Majannang dan Desa Mattirotasi.
PMI menyalurkan sekitar 10.000 liter air bersih setiap hari untuk memenuhi kebutuhan warga. Program distribusi ini telah berlangsung sejak 28 Juni 2026 dan kini dilakukan setiap hari seiring meningkatnya permintaan masyarakat.
"Awalnya tidak setiap hari karena permintaan belum terlalu banyak. Sekarang distribusi dilakukan setiap hari," jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, PMI sempat menghadapi kendala akibat keterbatasan armada tangki air. Pada tahap awal, distribusi harus memanfaatkan tangki milik pihak lain sehingga proses penyaluran berjalan lebih lambat.
"Sempat lambat penyaluran karena kami menggunakan tangki milik pihak lain," ungkap Suryadi.
Namun, setelah PMI memiliki armada tangki sendiri, proses distribusi menjadi lebih optimal. Tahun ini, PMI Kabupaten Maros menargetkan mampu menyalurkan 200 tangki atau sekitar satu juta liter air bersih selama periode musim kemarau.
Sementara itu, Bupati Maros, Chaidir Syam, memastikan Pemerintah Kabupaten Maros terus memantau perkembangan cuaca berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan prakiraan BMKG, puncak fenomena El Nino diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, sedangkan musim hujan diprediksi baru mulai pada Oktober mendatang.
"BPBD sudah standby dan beberapa stakeholder mulai menyalurkan air bersih ke daerah-daerah yang mengalami kekeringan," kata Chaidir.
Ia menyebut sedikitnya enam kecamatan di Kabupaten Maros terdampak kekeringan, dengan kondisi krisis air bersih paling serius terjadi di Kecamatan Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru.
Pemerintah Kabupaten Maros bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta berbagai pemangku kepentingan terus mengintensifkan upaya penanganan agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi hingga musim hujan tiba.
