![]() |
| Bupati Maros, Dr. H. A. S. Chaidir Syam, S.IP., M.H., saat memberikan pengarahan |
Pelatihan yang merupakan bagian dari implementasi Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) tingkat Kabupaten Maros itu berlangsung secara hybrid, memadukan metode luring dan daring, selama dua hari, 30 Juni hingga 1 Juli 2026, di Gedung Serbaguna Maros.
Program hasil kolaborasi strategis antara Pemkab Maros dan SEAMEO RECFON tersebut dirancang untuk memperkuat sinergi layanan pendidikan anak usia dini melalui integrasi aspek kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan, dan pendidikan. Langkah ini sekaligus mendukung implementasi program wajib belajar 13 tahun melalui peningkatan kualitas tata kelola dan mutu pendidikan.
Ketua panitia, Hadijah, S.Pd.AUD., M.Pd., menjelaskan, pelatihan diikuti 280 peserta yang terdiri atas kepala Taman Kanak-kanak (TK), pengelola Kelompok Bermain (KB), serta guru PAUD dari berbagai wilayah di Kabupaten Maros.
"Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas pedagogis dan kompetensi teknis kepala TK maupun guru PAUD agar mampu mengintegrasikan layanan kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan, dan pendidikan secara berkelanjutan," ujarnya.
Menurut Hadijah, keberhasilan penyelenggaraan kegiatan tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor. Materi pelatihan disampaikan para tenaga ahli yang telah tersertifikasi sebagai Master of Trainer ECCNE Kabupaten Maros.
Narasumber berasal dari berbagai instansi, di antaranya Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Bapperida, DP3A-Dalduk KB, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Kantor Kementerian Agama, Poltekkes Kemenkes, hingga organisasi mitra. Sementara pembiayaan kegiatan didukung melalui partisipasi mandiri lembaga PAUD se-Kabupaten Maros.
Membuka kegiatan tersebut, Bupati Maros menegaskan bahwa pembangunan kualitas manusia harus dimulai sejak usia dini sebagai strategi menghadapi bonus demografi. Saat ini, sekitar 52 persen penduduk Kabupaten Maros berada pada rentang usia produktif 10 hingga 30 tahun.
"Pembangunan SDM memang membutuhkan investasi besar. Di negara-negara maju, potensi dan minat anak sudah dipetakan sejak di bangku PAUD sehingga dapat difasilitasi secara optimal. Pendidikan anak usia dini adalah fondasi. Jika fondasi rapuh, masa depan bangsa pun akan ikut rapuh," tegasnya.
Ia menambahkan, program ECCNE sejalan dengan visi Presiden RI Prabowo Subianto dalam memperkuat layanan pendidikan melalui konsep Sekolah Rakyat yang terintegrasi. Menurutnya, pemerataan akses pendidikan berkualitas dan pemenuhan gizi anak menjadi kunci memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Bupati juga mengingatkan agar proses pembelajaran di PAUD lebih mengedepankan pembentukan karakter dibanding mengejar kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung).
"Anak-anak perlu dibiasakan dengan etika dasar, seperti membuang sampah pada tempatnya, menghormati orang tua, hingga tata krama saat makan. Nilai-nilai karakter inilah yang menjadi pondasi utama pendidikan anak usia dini," katanya.
Melalui implementasi ECCNE, anak-anak diharapkan memperoleh layanan yang lebih komprehensif, mulai dari stimulasi perkembangan fisik, kognitif, bahasa, sosial, emosional, hingga moral. Program ini juga diarahkan untuk memperkuat upaya pencegahan stunting sekaligus meningkatkan kesejahteraan anak secara menyeluruh.
Menutup sambutannya, Bupati Maros menyampaikan apresiasi kepada SEAMEO RECFON beserta seluruh organisasi perangkat daerah yang telah bersinergi menyukseskan program tersebut.
"Saya yakin guru-guru PAUD di Kabupaten Maros memiliki kompetensi dan dedikasi yang luar biasa untuk membangun masa depan anak-anak kita. Mari bersama-sama mengawal Program Anakku Sehat, Anakku Cerdas demi melahirkan generasi Maros yang unggul," pungkasnya.
